Senin, 06 Agustus 2012

Perbedaan Diabetes Tipe 1 dan 2

Keduanya sama-sama berhubungan dengan kelebihan gula di dalam darah. Meski demikian Diabetes Tipe 1 dan 2 punya beberapa perbedaan yang sangat mendasar. Penyebabnya sangat berbeda, pengobatan dan cara pencegahannya juga tidaklah sama.

Perbedaan pertama terletak pada usia pasien saat pertama kali didiagnosis. Diabetes tipe 1 lebih banyak menyerang pasien di bawah umur 20 tahun sehingga sering disebut juvenile onset, sebaliknya tipe 2 menyerang usia 35 tahun ke atas atau disebut adult onset.

Dalam perkembangannya istilah juvenile onset dan adult onset saat ini sudah dihilangkan, sebab pada kenyataannya diabetes tipe 1 dan 2 bisa menyerang usia berapapun. Hanya saja, kecenderungannya masih tetap sama yakni tipe satu lebih banyak menyerang di usia muda dan tipe 2 di usia tua.

Selanjutnya adalah postur dan perawakan pengidapnya. Pasien diabetes tipe 1 umumnya memiliki perawakan kurus, sedangkan diabetes tipe 2 lebih banyak menyerang orang-orang bertubuh besar yang dikategorikan kelebihan berat badan (overweight) maupun obesitas.

Diabetes Tipe 1 dan 2 juga dibedakan berdasarkan penyebabnya. Diabetes tipe 1 disebabkan oleh kerusakan pankreas sehingga produksi insulin berkurang, sementara tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin dalam arti insulinnya cukup tetapi tidak bekerja dengan baik dalam mengontrol kadar gula darah.

Karena penyebabnya berbeda, pengobatan kedua tipe diabetes ini juga tidak sama. Pengidap diabetes tipe 1 membutuhkan insulin dalam bentuk suntikan maupun pompa insulin sedangkan pasien diabetes tipe 2 cukup mengonsumsi obat oral atau obat telan.

Diabetes tipe 1 susah diprediksi dan dicegah, sebab merupakan kelainan genetik yang dibawa sejak lahir. Lain halnya dengan diabetes tipe 2 yang sangat bisa dicegah, karena biasanya menyerang orang-orang dengan pola makan tidak sehat dan jarang berolahraga.

Dilihat dari perbandingan jumlah kasus, diabetes tipe 1 mencakup 10-15 persen dari jumlah seluruh pengidap diabetes. Dikutip dari ABC News, Senin (20/2/2012), jumlah kasus diabetes tipe 2 terutama di negara maju dan berkembang mencapai 85-90 persen dari seluruh pengidap diabetes semua tipe.


Diabetes Melitus



Bila Dirangkum maka secara garis besar perbedaan DM Tipe 1 dan 2 adalah :

Perbedaan Klinis DM Tipe 1 dan DM tipe 2
Diebetes Mellitus Tipe 1
  • Sel beta pancreas rusak sehingga tak mampu memproduksi insulin, sehingga untuk kebutuhannya tergantung asupan dari luar.
  • Terjadi sejak usia bayi dan anak-anak.
  • Biasanya penderita kurus, karena terjadi lipolisis dan glukoneogenesis dari lemak, akibat tidak adanya insulin
  • Penyebab tidak adanya insulin:
         * Immune Mediated (penyakit autoimun)
         * Idiopatik ( tak diketahui )
  • DM tipe I cepat menjadi hiperglikemia berat dan keto acidosis
  • Rentan terhadap ketosis
  • Terapinya tergantung pada Insulin
  • Sering memperlihatkan gejala awal yang eksplosif dengan polidipsia, poliuria, turunnya BB, polifagia, lemah, dan mengantuk (samnolen)

    Diabetes mellitus Tipe 2
  • Sel beta pancreas mampu menghasilkan insulin namun tidak berfungsi optimal.
  • Onsetnya pada usia dewasa.
  • Penyebab :
*  Dominan insulin resisten + defisiensi insulin relatif. Hal ini   dihubungkan dengan pada penderita obese yang mengalami penurunan jumlah receptor insulin, sehingga walaupun kadar insulin normal/meningkat, penderita tetap hiperglikemia. Faktor lain yang berpengaruh terhadap resistensi adalah faktor genetik dan lingkungan.

* Dominan gangguan sekresi + insulin resisten 

  • Biasa  terjadi pada usia pertengahan ( dewasa dan orang tua)
  • Pada saat awal biasanya tidak menunjukkan gejala, penegakan diagnosa dilakukan melalui pemeriksaan darah di Lab. dan tes toleransi glukosa
  • Tidak rentan terhadap ketosis
  • Terapinya tidak tergantung dengan insulin.

Faktor resiko menderita DM
·   Infeksi pankreas, cushing syndrome, dan akromegali
·   Gangguan metabolism glukosa intrasel
·   Secara genetik ada yang menderita DM.
·   Gaya hidup yang tidak sehat (terlalu sering  mengkonsumsi makanan sumber karbohidrat sederhana, gula-gula dan makanan yang manis).
·    Obesitas / terlalu banyak sel adipose

Hiperglikemia kronis dapat menyebabkan komplikasi kronis pada DM
•    Hiperglikemia sampai 300-1200mg/dl
Keadaan hiperglikemi yang belangsung dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan meningkatnya kecepatan pembentukan sel-sel  membrane dasar pembuluh-pembuluh kecil, hal ini dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular, penebalan mikrovaskular ini menyebabkan iskemia dan penurunan penyaluran oksigen dan zat-zat  gizi ke jaringan. Meningkatnya asam lemak darah, serta kolestrol, fosfolipid dan lipoprotein darah secara kronis memacu angiopati ( kelainan pembuluh darah ) seperti atherosclerosis :
Ø    Mikroangiopati          :   pada kapiler retina, ginjal
Ø  Makroangiopati    : prinsipnya atherosclerosis yang dipercepat, komplikasinya berupa penyakit jantung koroner dan stroke.
•        Pada batasan tertentu glukosa yang memasuki tubulus ginjal akan diresorbsi kembali, namun bila kadar glukosa darah lebih dari 180 mg/dl maka ada sebagian glukosa yang gagal diresorbsi dan masuk ke urin.
•    Karena kondisi kadar glukosa tinggi dalam cairan extracellular, sementara glukosa tidak selalu mudah menembus ke intrasel, maka tekanan osmotik extracell yang lebih tinggi akan menarik cairan dari intracell, sehingga terjadi dehidrasi intracel. Sementara masuknya glukosa dalam urin meningkatkan tekanan osmotik urin, sehingga terjadi osmotik diuresis, sehingga terjadi dehidrasi ekstracell. Keduanya dapat berakhir sebagai shock hipovolemik. ( gangguan sirkulasi akibat voum intravascular yang menurun drastis )
•    Selain itu, hemoglobin yang terglikosilasi memiliki afinitas yang tinggi  terhadap oksigen sehingga oksigen terikat lebih erat ke molekul hemoglobin, hal ini menyebabkan ketersediaan oksigen untuk jaringan berkurang.
•    Keadaan hipoksia pada jaringan ini bila berlangsung terus menerus dalam jangka waktu lama dapat secara langsung merusak atau menghancurkan sel. Hipoksia kronik ini pun dapat menyebabkan timbulnya hipertensi karena jantung dipaksa meningkatkan curahnya sebagai manifestasi pemenuhan kebutuhan oksigen ke jaringan yang iskemik. Gangguan mikrovaskuler ini juga dapat mempengaruhi  glomerulus ginjal (nefropati diabetic), arteriola retina (retinopati diabetic), dan system saraf perifer, termasuk neuron sensorik, motorik dan somatik (nefropati diabetic), serta mempengaruhi otot-otot dan kulit.

Nutrient yang dapat diberikan untuk penderita DM

 Makro nutrient
Ø    Karbohidrat : sebagai sumber tenaga (45-65%), diutamakan karbohidrat komplek yang mengandung serat tinggi (25 g/hari).
-    Pemanis bergizi <5% Total energy, sedangkan pemanis tidak bergizi tidak boleh melebihi batas aman.
Ø    Lemak : untuk memenuhi kebutuhan energi (20-25% diutamakan lemak yang berasal dari MUFA karena mudah diabsorpsi sel.
-    SAFA  <7%  Kebutuhan Energi
-    PUFA  <10%  Kebutuhan Energi
-    Kolesterol  <300  mg/ hari
Ø    Protein : 10-20%. Pasien dengan Nefropati, asupan protein diturunkan menjadi 0,8 gr/ kgBB/ hari. Fungsi protein untuk mempercepat penyembuhan luka, meningkatkan kadar albumin darah dan pembentukan membrane sel. Diutamakan protein dengan nilai biologi tinggi.
Ø    Serat : terutama serat larut dari sayur dan buah, untuk membantu kerja proses pencernaan dan memenuhi kebutuhan serat sehari.
    Mikro nutrient
Ø    Vitamin A
Membantu pembentukan dan pemeliharaan sel epitel dan membrane mucus
Ø    Vitamin C
Sebagai antioksidan, dan membantu sintesis kolagen
Ø    Vitamin E
Sebagi antioksidan, dan membantu menguatkan serta  menstabilisasi mebran sel
Ø    Zink (Zn)
Berperan dalam membantu pembentukan sel darah merah, membnatu menjaga keseimbangan asam basa dengan cara membantu mengeluarkan karbon
Ø    Cromium (Cr)
Dibutuhkan dalam metabolisme karbohidrat dan lipid, bekerja sama dengan insulin dalam memudahkan masuknya glukosa ke dalam sel dioksida dari jaringan dan paru-paru pada pernapasan, juga berhubungan dengan hormon insulin yang dihasilkan pankreas
Ø    Magnesium (Mg)
Sebagai katalisator dalam proses metabolisme, kekurangan magnesium dapat mengganggu proses absorpsi, penurunan fungsi ginjal dan endokrin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar